Brisbane,
22 Juni 2026 - Brisbane, 23 Juni 2026 – PT Pupuk Indonesia (Persero) berhasil
merealisasikan pengiriman urea ke Australia sebagai bagian dari penguatan peran
Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan rantai pasok pupuk kawasan.
Keberhasilan tersebut ditandai dengan tibanya kapal Motor Vessel (MV) Medi Luna
yang mengangkut 47.250 ton urea dari Indonesia di Pelabuhan Brisbane,
Queensland, Australia, pada Senin, (22/6/2026).
Kedatangan
pengiriman ini menjadi tonggak penting implementasi kerja sama ekspor pupuk
Indonesia-Australia melalui skema Government-to-Government, untuk memperkuat
ketahanan pangan kawasan Indo-Pasifik. Momentum ini sekaligus menegaskan posisi
Pupuk Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok pupuk regional dan
mitra strategis pemerintah dalam memperkuat diplomasi pangan.
Duta
Besar Republik Indonesia (RI) untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono
menyatakan keberhasilan pengiriman ke Australia menjadi langkah penting dalam
memperkuat kontribusi Indonesia terhadap ketahanan pangan kawasan Indo-Pasifik.
Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang mempengaruhi rantai pasok pupuk
global, Indonesia berhasil menunjukan posisi strategisnya sebagai pemasok pupuk
yang andal di kawasan.
“Kerja
sama ini menjadi simbol eratnya kemitraan ketahanan pangan Indonesia dan
Australia. Ketika rantai pasok global menghadapi tantangan, Indonesia dengan
kapasitas produksi urea yang besar dapat membantu memenuhi kebutuhan Australia
yang mencapai 3,7 juta ton per tahun,” kata dia.
Direktur
Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan keberhasilan pengiriman
tersebut mencerminkan kinerja positif yang terus dilakukan Pupuk Indonesia
untuk meningkatkan daya saing industri pupuk nasional. Menurutnya, kemampuan
Indonesia menjaga kontinuitas produksi dan pasokan pupuk di tengah dinamika
global telah memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis bagi
negara-negara yang membutuhkan sumber pasokan yang stabil dan terpercaya.
“Hari
ini Indonesia menunjukan bahwa kita adalah reliable supplier yang bisa menjadi
sumber pasokan pupuk bagi negara mitra. Kita datang ketika mereka membutuhkan
dan kita memberikan kepastian ketika dunia penuh ketidakpastian,” ujar Rahmad.
Sebagai
produsen pupuk dengan kapasitas mencapai 14,8 juta ton per tahun, Pupuk
Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus
mendukung kebutuhan pasar regional. Pada 2026, produksi urea Pupuk Indonesia
ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan
sekitar 6,3 juta ton, sehingga terdapat ruang yang memadai untuk melakukan
ekspor tanpa mengganggu pasokan bagi petani Indonesia.
“Arahan
dari Bapak Presiden adalah, pertama penuhi dulu kebutuhan pupuk dalam negeri
untuk para petani kita. Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari
kebutuhan petani di Indonesia,” kata Rahmad.
Kemampuan
Indonesia untuk berkontribusi terhadap kebutuhan pupuk kawasan didukung oleh
pengelolaan pasokan yang kuat di dalam negeri. Hingga 22 Juni 2026, stok pupuk
bersubsidi tercatat mencapai 1,23 juta ton, sementara realisasi penyaluran
pupuk bersubsidi telah mencapai 4,61 juta ton atau meningkat 30% dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya.
Chief
Digital & Data Officer (First Assistant Secretary) Kementerian Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan Australia Amanda Chalmers menyampaikan apresiasi atas
kedatangan urea dari Indonesia ke Australia. Menurutnya, realisasi pengiriman
tersebut mencerminkan eratnya hubungan dan kemitraan strategis antara kedua negara.
“Kedatangan
urea dari Indonesia hari ini menjadi cerminan eratnya kemitraan serta
persahabatan antara Australia dan Indonesia. Pasokan pupuk ini memberikan
kepastian bagi para petani, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan
Australia dan kawasan yang lebih luas,” kata dia.
Ekspor
urea ke Australia merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah lebih
dulu terbangun antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia
Anthony Albanese. Pengiriman perdana dilakukan menggunakan kapal MV. Medi Luna
yang diberangkatkan dari Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang,
Kalimantan Timur, pada pertengahan Mei 2026. Selanjutnya, realisasi ekspor akan
dilakukan secara bertahap hingga mencapai 250.000 ton pada akhir 2026.
Seremoni
kedatangan urea di Brisbane dihadiri Chief Digital & Data Officer (First
Assistant Secretary) Kementerian Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia
Amanda Chalmers, Chief Executive Officer (CEO) Ridley Corporation Quinton
Hildebrand, Chief Operating Officer (COO) Incitec Pivot Fertilisers Scott
Bowman, serta sejumlah pejabat pemerintah dan pelaku industri Australia. Dari
Indonesia hadir Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono, Tenaga
Ahli Menteri Bidang Peningkatan Produksi Pertanian Kementerian Pertanian Hasil
Sembiring, Konsul Jenderal RI Sydney Pendekar Muda Leonard Sondakh, Direktur
Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, serta jajaran terkait.

